Setiap tahun, 1,8 miliar umat Muslim di dunia memasuki sepuluh hari yang Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) sebut sebagai yang paling istimewa sepanjang tahun. Para jamaah haji berangkat ke Makkah; selainnya menjalani periode pengabdian yang sejajar di rumah.
Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: "Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini." Para sahabat bertanya: "Bahkan jihad (berjuang) di jalan Allah?" Beliau menjawab: "Bahkan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu kembali tanpa membawa apa-apa." (Sahih al-Bukhari 969)
وَٱلۡفَجۡرِ ﴿١﴾ وَلَيَالٍ عَشۡرٖ ﴿٢﴾
Demi fajar, dan demi sepuluh malam.
Quran, Al-Fajr 89:1-2
Banyak ulama tafsir klasik — termasuk Ibnu Abbas (radhiyallahu ‘anhu) — memahami "sepuluh malam" dalam sumpah ini sebagai sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Terlepas kamu menerima tafsir itu atau tidak, intinya tetap: ini adalah hari-hari yang Allah sendiri muliakan.
Mengapa Hari-Hari Ini Berbeda
- Di dalamnya terdapat Hari Arafah (tanggal 9, ketika para jamaah haji berkumpul di padang Arafah), yang dalam Sahih Muslim 1348 disebut sebagai hari ketika Allah paling banyak membebaskan manusia dari api neraka.
- Di dalamnya terdapat Idul Adha (tanggal 10), Hari Raya kedua dari dua Hari Raya tahunan, yang menandai selesainya ibadah Haji.
- Inilah satu-satunya rentang sepuluh hari di mana lima kategori pokok ibadah berkumpul: shalat, puasa, sedekah, haji, dan tilawah Al-Quran.
Amalan-Amalan Praktis
Puasa (hari ke-1 sampai ke-9)
Berpuasa di sembilan hari pertama adalah Sunnah (amalan Nabi) yang dianjurkan. Tidak wajib — kalau kamu hanya mampu satu atau dua hari, itu pun bermakna. Puasa di Hari Arafah (tanggal 9) adalah puasa paling berpahala dalam setahun bagi yang tidak sedang berhaji; Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda bahwa puasa itu menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang (Sahih Muslim 1162). Jamaah haji tidak berpuasa pada hari itu.
Takbir, tahlil, dan tahmid
Selama sepuluh hari ini, Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dan para sahabatnya mengisi waktu mereka dengan tiga bentuk dzikir (pengagungan, pengesaan, dan pujian kepada Allah):
- Allahu Akbar (Allah Maha Besar)
- La ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah)
- Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)
Takbir di masa Idul Adha dibaca setelah shalat-shalat fardhu. Untuk non-jamaah haji, mayoritas ulama (Hanafi, Syafi'i, Hanbali) menganjurkan dimulai sejak Subuh tanggal 9 sampai Ashar tanggal 13. Mazhab Maliki memulainya setelah Zuhur di Hari Raya (tanggal 10).
Sedekah (sadaqah)
Sedekah di hari-hari mulia ini memiliki bobot yang hanya Allah yang tahu. Yang kecil pun terhitung: satu porsi makanan yang disumbangkan ke food bank, transfer ke lembaga amal yang terverifikasi, kata-kata baik untuk seseorang yang sedang kesulitan. Prinsipnya dalam Al-Quran adalah Allah melipatgandakan apa yang kamu berikan karena-Nya (Quran, Al-Baqarah 2:261).
Al-Quran
Banyak Muslim berupaya membaca Al-Quran lebih banyak di sepuluh hari ini — satu juz sehari jika mampu, satu halaman jika tidak. Bahkan beberapa ayat yang dibaca dengan kekhusyukan adalah salah satu bentuk ibadah tertinggi. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.' (Sahih al-Bukhari 5027)
Shalat dan dzikir
Pondasi hari-hari ini adalah lima shalat fardhu, dijalankan dengan keikhlasan. Kalau kamu bisa menambah tahajud (shalat malam) di salah satu malam-malam ini, lakukanlah; kalau tidak, shalat fardhu sendiri sudah menjadi pondasinya. Setelah setiap shalat, duduklah sejenak dengan dzikir-dzikir sederhana — SubhanAllah (Maha Suci Allah), alhamdulillah, Allahu Akbar.
Jika Kamu Tidak Sedang Berhaji
Hari-hari ini milik setiap Muslim — bukan hanya yang berada di Ka'bah (bangunan suci di tengah Makkah). Para jamaah haji berjalan di jalur suci; yang di rumah berjalan di jalur yang sejajar. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) sendiri menjalani banyak hari-hari ini di Madinah sebelum beliau pernah menunaikan Haji Wada' beliau. Memuliakannya dari dapur, kantor, atau tempat tidurmu adalah ibadah yang utuh.
Untuk Muslim yang ingin berhaji tapi belum mampu — secara finansial, fisik, atau alasan lainnya — ketahuilah bahwa Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Barang siapa berniat amal kebaikan lalu tidak melakukannya, Allah mencatat untuknya satu kebaikan yang sempurna.' (Sahih al-Bukhari 6689) Niat itu sendiri adalah suatu bentuk perjalanan.
Bagaimana Kalau Kamu Lelah atau Bergumul?
Waktu-waktu suci dapat memperbesar beban batin sebagaimana ia memperbesar kegembiraan. Kalau hari-hari ini datang ketika kamu kelelahan, berduka, atau jauh dari rutinitasmu yang biasa, itu bukan kegagalan. Pintu rahmat Allah tidak menutup karena kamu tidak mampu berpuasa. Satu doa yang tulus, satu sedekah kecil, satu momen dzikir sudah cukup untuk memasuki musim ini.
Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, sekecil apa pun.' (Sahih al-Bukhari 6464) Bawalah apa yang kamu mampu.
Sebuah Doa untuk Sepuluh Hari Pertama
اللَّهُمَّ بَلِّغْنِي ذَا الْحِجَّةِ، وَأَعِنِّي فِيهَا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ
Allāhumma ballighnī dhā'l-ḥijjah, wa aʿinnī fīhā ʿalā'ṣ-ṣiyāmi wa'l-qiyām
Ya Allah, sampaikan aku ke Dzulhijjah, dan tolonglah aku di dalamnya dengan puasa dan qiyamul lail.
Doa yang umum dipakai, diadaptasi dari doa untuk sampai ke Ramadhan. Tidak ada sumber hadis khusus; dipakai sebagai doa pribadi.
Catat puasa sunnah hari demi hari sepanjang sembilan hari pertama Dzulhijjah.
Sentuh-untuk-hitung untuk koleksi dzikir pagi, petang, dan takbir Idul Adha.
Berguna untuk rangkaian takbir, tahlil, dan tahmid yang dianjurkan di hari-hari ini.
Panduan langkah demi langkah untuk lima shalat fardhu.